Relasi Makna Antonim dan Sinonim sebagai Penguat Unsur Cerita dalam Novel Nebula Karya Tere Liye
Kata Kunci:
Relasi makna, antonim, sinonim, novel Nebula, Tere Liye, semantikAbstrak
Penelitian yang berjudul Relasi Makna Antonim dan Sinonim dalam Novel Nebula karya Tere Liye bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk relasi makna antonim dan sinonim yang terdapat dalam novel Nebula karya Tere Liye. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak dan catat. Sumber data penelitian berupa novel Nebula karya Tere Liye episode 1-30. Teknik analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan model (Miles & Huberman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa data yang ditemukan sebanyak 53 relasi makna yang kemudian terbagi ke dalam dua bentuk relasi makna, yaitu antonim dan sinonim. Relasi makna antonim ditemukan sebanyak 31 pasangan kata yang terdiri atas tiga kategori, yaitu oposisi mutlak sebanyak 7 data, oposisi relasional sebanyak 8 data, dan oposisi kutub (gradual) sebanyak 16 data. Dengan demikian, antonim yang paling dominan adalah antonim oposisi kutub (gradual) karena paling banyak digunakan untuk menggambarkan konflik, suasana emosional, dan pertentangan batin tokoh dalam novel. Contoh data antonim oposisi gradual antara lain awal-akhir, sepi-ramai, dan terlambat-tepat waktu. Selain itu, ditemukan juga 22 pasangan sinonim yang terdiri atas tiga kategori, yaitu sinonim kontekstual sebanyak 9 data, sinonim leksikal sebanyak 12 data, dan sinonim mutlak sebanyak 1 data. Dengan demikian, sinonim yang paling dominan adalah sinonim leksikal karena banyak digunakan oleh pengarang untuk memperkaya variasi diksi dan menghindari pengulangan kata yang monoton dalam cerita. Contohnya ramai-banyak, pelit-kikir, dan menjelaskan-menerangkan. Sementara itu, sinonim mutlak menggerutu-mengomel. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan relasi makna antonim dan sinonim dalam novel Nebula tidak hanya berfungsi sebagai variasi bahasa, tetapi juga berperan penting dalam membangun konflik, memperjelas karakter tokoh, menciptakan suasana cerita, serta meningkatkan nilai estetika karya sastra.
